Panduan lengkap untuk memulai diet keto

Pendahuluan
Diet ketogenik telah dikenal sejak tahun 1921 oleh Wilder (DeVivo Darryl C., Kenneth L., & Mary P., 1975). Penelitian mengenai diet ketogenik dimulai sejak tahun 1920–1930.Metode diet ini mampu mengurangi kemungkinan timbulnya kejang pada pasien epilepsi (Klepper J., B. Leiendecker., EH. Kossoff, 2006), namun metode ini mulai ditinggalkan seiring dengan ditemukannya obat antiepilepsi yakni sejak ditemukan phenytoin pada tahun 1938 (Khossoff EH, Sarah, Cervenka C, & Bobbie, 2016).
Diet ini merupakan contoh khusus dari diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Diet ketogenik dirancang dengan rasio lipid:non-lipid 4:1 setara dengan 75–80% dari asupan energi harian yang didapatkan dari lemak, 15% dari protein, dan kurang dari 5% dan/atau 20–50 gram karbohidrat per hari (Evans, Cogan, & Egan, 2017). Setelah beberapa hari mengurangi asupan karbohidrat secara drastis dengan tetap mempertahankan energi seperti biasa, cadangan glukosa menjadi berkurang dan tidak lagi mencukupi untuk oksidasi lemak normal (melalui oksaloasetat dalam siklus Krebs) atau untuk memasok energi ke sistem saraf pusat (Durkalec-Michalski, Nowaczyk, & Siedzik, 2019).
Mekanisme Diet Keto
Mekanisme utama diet ketogenik pada tubuh yaitu melalui reorganisasi metabolisme. Oleh karena kurangnya ketersediaan karbohidrat yang optimal, maka oksidasi asam lemak bebas (dari asupan atau jaringan adiposa) dan degradasi asam amino ketogenik menghasilkan pembentukan badan keton (β-hydroxybutyrate, acetoacetate, dan aceton) dalam matriks mitokondria sel-sel hepar. Setelah badan keton ditranspor ke sel ekstrahepatik, maka dapat digunakan sebagai substrat energi (asetil-KoA) dalam memproduksi ATP melalui jalur fosforilasi oksidatif dalam siklus asam sitrat (TCA) (Vidali, et al., 2015).
Gambar 1. Metabolisme tubuh saat menggunakan diet ketogenic (Anon., 2017)
Keterangan:
- Glikogen disimpan di dalam hati melalui proses glikogenolisis akan menghasilkan glukosa sebagai energi di otak
- Lipid adipose yang berupa trigliserida disimpan dalam sel akan dipecah menjadi FFA (free fatty acid) dan gliserol, FFA di metabolisme dan mengalami -oksidasi menjadi keton sebagai energi di otak, sedangkan gliserol mengalami proses glukoneogenesis menjadi glukosa sebagai energi di otak. Di dalam jaringan otot, piruvat, laktat dan beberapa asam amino melalui proses glukoneogenesis dirubah dalam bentuk glukosa sebagai energi otak (Rodwell Victor W., et al., 2017).
Hubungan antara diet ketogenik dan inflamasi/stres oksidatif juga signifikan, yang mana telah diobservasi selama terapi penyakit neurodegeneratif dan penyakit lainnya terkait dengan inflamasi berat (seperti diabetes, obesitas, polycystic ovary syndrome, autisme, acne, asma, multiple slerosis, alzheimer, dan parkinson disease). Selain itu, diet ini juga memperkuat fungsi otak dan performa kognitif (Murray, et al., 2016).
Penggunaan diet ketogenik membutuhkan evaluasi berkala serta dipantau oleh tenaga kesehatan yang profesional seperti ahli gizi, endokrinolog, dan ahli fisiologi olahraga (Kalra, et al., 2018). Hal ini dikarenakan diet ketogenik mengakibatkan kondisi ketosis, yang tidak cocok untuk beberapa pasien dengan diabetes mellitus tipe 2, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui, serta pasien dengan penyakit ginjal (Bolla & Laurenzi, 2019). Selain itu, karena peningkatan risiko ketoasidosis diabetik, pasien yang menggunakan obat inhibitor SGLT-2 harus menghindari diet ketogenik (karbohidrat yang sangat rendah) (Handelsman, et al., 2016)
Terdapat dua pendekatan diet yang bertujuan meningkatkan kadar keton dalam sirkulasi, (Gibson, et al., 2014), yaitu:
- Ketogenic Low Carbohydrate diets (KLCDs)
Pendekatan diet ketogenik jenis ini sangat membatasi konsumsi karbohidrat, biasanya sekitar < 50 gram/hari.
- Very Low Energy Diets (VLEDs)
Jenis diet ini membatasi asupan energi hingga kurang dari 800 kcal per hari, dengan konsumsi karbohidrat sekitar 50–70 gram/hari.
- Sumber Diet
Sumber kalori pada diet ini hingga 90% diberikan dalam bentuk lemak, dengan asupan protein tidak lebih dari 1g/kg berat badan dan minimal karbohidrat. Rasio standar dari kalori lemak berbanding karbohidrat dan protein adalah 4:1 (Klepper J., B. Leiendecker., EH. Kossoff, 2006). Pada anak-anak yang usianya lebih muda dan remaja, rasio dapat diturunkan menjadi 3:1. Karena dalam usia pertumbuhan diperlukan asupan protein sesuai kebutuhan anak (Neal, 2012). Cairan yang masuk dibatasi hingga 80% dari asupan biasa, vitamin dan mineral harus diberikan dalam bentuk suplemen, karena disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak secara individu, maka tidak ada menu standar untuk anak. Semua resep dihitung berdasarkan kebutuhan anak. Penderita harus menyediakan timbangan di rumah, karena setiap makanan yang masuk harus sesuai sampai ke hitungan gram, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Diet ini bukan diet dengan nutrisi yang seimbang, jadi masih diperlukan suplemen vitamin dan mineral, seperti kalsium dan beberapa jenis vitamin B sesuai dosis kebutuhan anak. Semua yang masuk ke tubuh, termasuk pasta gigi, obat, dan vitamin, harus bebas gula, jadi tidak boleh minum obat dalam bentuk sirup karena mengandung gula (Neal, 2012).
Gambar 2. Sumber makanan yang digunakan dalam diet ketgogenik klasik Sumber (Anon., 2017)
Makanan yang digunakan dalam diet ini memanfaatkan produk trigliserida dengan kandungan tinggi (mentega, krim, mayones, dan kacang) Kandungan karbohidrat yang terdapat dalam makanan dan minuman dikurangi untuk menambah efek akumulasi keton (Neal, 2012). Diet ketogenik klasik dalam makanan sehari-hari didapatkan dari ikan salmon, selai kacang, salad, bayam, dan brokoli, selain itu dapat ditambahkan minyak biji rami dan kenari. Diet lemak jenuh contohnya daging merah dan produk susu. Diet lemak tak jenuh (minyak sayur dan sayuran), dan lemak tak jenuh tunggal contohnya ikan dan zaitun. Tabel 1 menyajikan jenis makanan yang diperbolehkan dalam diet ketogenik klasik.
Tabel 1. Bahan makanan untuk diet ketogenik klasik Sumber (Neal, 2012)
Minuman yang boleh dikonsumsi selama menjalani terapi diet ketogenik antara lain:
- Air bebas gula, misal: minuman berkarbonasi, cordial, squashes, the herbal, kopi.
- Susu kedelai tanpa gula, kelapa, dan susu almond
- Garam, merica, perasa bebas karbohidrat, stok, dan esens.
- Pemanis berupa cairan, bubuk atau tablet, misal: sucralose, sakarin, stevia, selalu periksa label karena beberapa merek mengandung karbohidrat.
- Bumbu dan rempah segar dan rempah kering.
Rekomendasi Energi
Energi yang direkomendasikan harus mampu mencukupi kebutuhan angka kecukupan gizi (AKG) anak untuk pertumbuhan dan perkembangan normalnya, meskipun sedang menjalankan program diet. Pada saat bersamaan tetap menjaga kondisi ketosis yang diperlukan dalam mengontrol kejang. Kelebihan energi dalam diet dan kenaikan berat badan akan menyebabkan ketosis menurun sehingga kejang kembali terjadi.
Sumber: (Neal, 2012)
Contoh Menu Diet Keto Untuk Pemula
Dalam praktiknya, berbagai menu diet keto yang dikonsumsi harus mengandung tinggi lemak dan protein, serta rendah karbohidrat. Berikut rekomendasi menu:
- Senin
Makan pagi : alpukat, telur orak arik, dan selada.
Makan siang : bayam, ikan kembung, tahu bacem, dan 3 sendok makan nasi
merah Makan malam : tempe bacem, tumis labu, dan ikan kembung.
- Selasa
Makan pagi : salad buah, yoghurt, dan telur rebus, bisa menaburkan biji-
bijian sebagai topping, seperti biji chia dan quinoa.
Makan siang : tumis tempe dan kacang panjang, beberapa sendok nasi putih, dan ayam bakar. Makan mlam : ayam bumbu merah, selada, dan tumis tahu serta tauge.
- Rabu
Makan pagi : omelet jamur dan keju, serta jeruk peras.
Makan siang : semur daging, sayur oyong, dan nasi merah
Makan malam : tauge, kangkung, dan semur daging.
- Kamis
Makan pagi : sandwich dengan isian selada, keju, jamur, dan daging
Makan siang : salad berisi potongan ayam, timur, tomat, dan wortel.
Makan malam : daging ayam panggung, tumis brokoli, dan jeruk peras sebagai minuman.
- Jumat
Makan pagi : omelet brokoli dan jamur untuk sarapan.
Makan siang : salad sayur dengan topping udang atau ikan, minyak zaitun,
perasan jeruk, biji wijen, dan keju.
Makan malam : semur daging.
- Sabtu
Makan pagi : telur ceplok dan alpukat sebagai menu sarapan.
Makan siang : dada ayam panggang dengan balutan mentega atau minyak zaitun, dan sayur sawi.
Makan malam : ikan nila merah dan serta paprika dan brokoli sebagai lalapan.
- Minggu
Makan pagi : apel, telur orak-arik, dan susu.
Makan siang : tumis bunci, pepes ikan tongkol, dan tahu bacem.
Makan malam : bayam dan telur mata sapi.
Anon., n. (2017, agustus 15). Guidelines for Practical Implementation of the Ketogenic Diet for Dietary Management of Epilepsy and Neurometabolic Disease PART I. Retrieved from
https://www.nestlehealthscience.com/vitaflo/via/documents/ketogenic%20diet%20guidelines%20-%20part%201.pdf
Bolla, C. A., & Laurenzi, S. P. (2019). Low-carb and ketogenis diets in type 1 and type 2 diabetes. Nutrients, 11:962.
DeVivo Darryl C., Kenneth L., M., & Mary P., L. (1975). Starvation and Seizures Observations: Observations on the Electroconvulsive Threshold and Cerebral Metabolism of the Starved Adult Rat. Arc Neurol, 755-60.
Durkalec-Michalski, K., Nowaczyk, P., & Siedzik, K. (2019). Effect of a four-week ketogenic diet on exercise metabolism in CrossFit-trained athletes. J Int Soc Sport Nutr, 16:16.
Evans, M., Cogan, K., & Egan, B. (2017). Metabolism of ketone bodies during exercise and training. physiological basis for exogenous supplementation, 595:2857-71.
Fitzsimmons, G., & Marian, S. (2015). Ketogenic Diet. Dalam V. Shaw (ed). Clinical Paediatric Dietetics, 354-80.
Gibson, A., Seimon, R., Lee, C., Ayre, J., Franklin, J., Markovic, T., . . . et al. (2014). Do Ketogenic Diets Really Suppress Appite? A Systematic Review and Meta- analysis. Obes Rev., 64-76.
Handelsman, Y., Henry, R., Bloomgarden, Z., Dagogo, J., DeFronzo, R., Einhorn, D., . . . al, e. (2016). American Association of Clinical Endocrinologist and American College of Endocrinology Position Statement on the Association of SCLT-2 inhibitors and Diabetic Ketoacidosis. Endocr. Pract, 753-762.
Khossoff EH, Sarah, D., Cervenka C, M., & Bobbie, J. H. (2016). The Ketogenic and Modifield Atkins Diets Treatment for Epilepsy and Other Disorders.
Klepper J., B. Leiendecker., EH. Kossoff. (2006). Pocket Guide to the Ketogenic Diet. Aschaffenburg, Germany : sps publications, -.
Murray, A., Knight, K., Cole, M., Cochlin, L., Carter, E., Tchabanenko, K., & et al. (2016). Novel ketone diet enhances physical and cognitive performance.
FASEB J., 4021-32. Neal, E. (2012). Dietary Treatment of Epilpesy. Practical Implementation of. Rodwell Victor W., David A., B., Kathleen M., B., Peter J., K., P. Anthony Weil, & et al. (2017). Harper's Illustratedd Biochemistry.
Vidali, S., Aminzeadeh, S., Lambert, B., Rutherrford, T., Sperl, W., Kofler, B., & etal. (2015). Mitochondria: the ketogenic diet--a metabolism-based therapy. Int J Biochem Cell Biol, 63:55-9.
Kembali